Text
PENGARUH JENIS BIJIH TERHADAP PERSEN EKSTRAKSI EMAS DAN TEMBAGA DI PT J RESOURCES BOLAANG MONGONDOW
PT J Resources Bolaang Mongondow merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan emas dengan menggunakan metode sianidasi heap leaching. Perusahaan ini berlokasi di Jalan Jhony Suhodo No.41, Ling.IV, Kel. Kotabangon, Kec.Kotamobagu, Kota Mobagu, Sulawesi Utara. Terdapat berbagai jenis bijih yang dimiliki dan diolah di perusahaan tersebut, diantaranya adalah bijih oxide, bijih subgrade, dan bijih transisi. Hal yang menyebabkan dibedakan antar jenis bijih tersebut adalah berdasarkan tingkat oksidasi dan kandungan sulfidanya.
Bijih oxide memiliki tingat oksidasi lebih dari 90%, sedangkan bijih subgrade memiliki tingkat oksidasi 50 % - 90 %, dan bijih transisi memiliki tingkat oksidasi dibawah 50%. Selain itu, untuk jenis bijih transisi sudah mulai terkontaminasi oleh mineral sulfida sehingga akan menyebabkan hasil ekstraksi yang cukup rendah.
Jika dilihat dari mineral yang terkandung didalamnya, bijih oxide terdiri dari geothite (FeO(OH)), hematite (Fe2O3) dan jarosite (KFe³⁺₃(OH)₆(SO₄)₂). Sedangkan bijih subgrade terdiri dari geothite (FeO(OH)), jarosite (KFe³⁺₃(OH)₆(SO₄)₂) dan sedikit hematite (Fe2O3). Dan pada jenis bijh transisi terdiriri dari pyrite (FeS2) chalcopyrite(CuFeS), covellite (CuS). Berdasarkan kandungan mineralnya, pada bijih oxide dan bijih subgrade didominasi oleh mineral oksidis, sedangkan pada bijih transisi didominasi oleh mineral sulfidis.
Perbedaan jenis bijih pada besaran tingkat oksidasi dan kandungan mineralnya, dapat mempengaruhi proses leaching terhadap hasil yang akan didapatkan di PT J Resources Bolaang Mongondow. Maka dari itu, dengan adanya penelitian ini akan diketahui jenis bijih yang dapat menghasilkan proses leaching yang paling optimal.
Penelitian yang dilakukan di PT J Resources Bolaang Mongondow, tepatnya di area laboratorium metalurgi akan menggunakan tiga jenis bijih dengan menggunakan variable ukuran yang berbeda dengan di plant leach pad. Ukuran yang digunakan di plant leach pad adalah P80 25 mm, sedangkan pada penelitian ini menggunakan ukuran P100 25 mm. Adapun detail ukuran yang digunakan adalah +25 mm -19 mm; +19 mm -12,5 mm; +12,5 mm -6,3mm; dan -6 mm.
Sampel bijih oxide, bijih subgrade, dan bijih transisi seluruhnya menggunakan sampel bijih yang berada di leach pad. Karena masih terdapat ukuran yang cukup besar maka akan dilakukan sizing terlebih dahulu menggunakan ukuran yang telah ditentukan. Kemudian sampel bijih akan dilakukan preparasi untuk dilakukan pengeringan sehingga diketahui kandungan moisture pada setiap bijih.
Setelah dilakukan proses pengeringan dan dilakukan perhitungan, maka didapatkan data besaran kandungan moisture. Adapun kandungan moisture pada jenis bijih oxide adalah 7,81 %, kemudian pada jenis bijih subgrade adalah 6,73 % dan pada jenis bijih transisi adalah 4,25 %. Setelah itu akan dilakukan pengecilan ukuran menggunakan crusher dan penghalusan menggunakan pulverizer. Sampel bijih yang telah halus akan dimasukkan kedalam pocket sample dan dilakukan penimbangan untuk selanjutnya proses analisis kandungan logam emas dan tembaga dari setiap jenis bijih.
Metode yang digunakan untuk analisis kandungan sampel bijih adalah fire assay (FA) dan leach test (CN). Perbedaan dari kedua metode tersebut adalah proses awal yang digunakan, untuk fire assay dilakukan pembakaran sedangkan leach test menggunakan metode pelarutan menggunakan sianida. Sedangkan pada akhir proses, keduanya akan tetap dilakukan pembacaan kandungan logam emas dan tembaga menggunakan atomic absobtion spectrophotometer (AAS).
Berdasarkan analisa yang telah dilakukan, didapatkan rata rata kandungan logam emas dan tembaga. Pada bijih oxide mengandung AuFA 0,715 ppm; AuCN 0,624 ppm; dan Cu 19,875 ppm. Sedangkan pada bijih subgrade mengandung AuFA 0,405 ppm; AuCN 0,350 ppm; dan Cu 41,250 ppm. Dan pada jenis bijih transisi mengandung AuFA 1,028 ppm; AuCN 0,645; dan Cu 67,500 ppm.
Kemudian akan dilakukan proses lime test untuk mengetahui kebutuhan kapur yang akan digunakan pada proses leaching. Proses lime test ini dilakukan selama 24x pengecekan, dan akan dilakukan total penggunaan kapur selama proses tersebut berlangsung sehingga diketahui besaran kebutuhan kapur. Hasil yang didapatkan setelah proses tersebut adalah kebutuhan kapur untuk bijih oxide sebesar 3,68 g, sedangkan kebutuhan kapur bijih subgrade sebesar 3,62 g, dan kebutuhan kapur bijih transisi sebesar 6,84 g.
Setelah seluruh proses di area preparasi selesai, kemudian akan dilakukan proses leaching yang akan tetap mempertahankan dengan menggunakan metode sianidasi heap leaching sesuai yang digunakan di plant leach pad PT J Resources Bolaang Mongondow. Proses leaching akan dilakukan selama 18 hari. Hasil akhir persen ekstraksi emas pada bijih oxide berdasarkan AuFA sebesar 89,54 % dan berdasarkan AuCN sebesar 94,89 %. Sedangkan pada bijih subgrade mendapatkan hasil persen ekstraksi berdasarkan AuFA sebesar 87,87 % dan berdasarkan AuCN sebesar 92,82 %. Kemudian pada bijih transisi mendapatkan hasil persen ekstraksi emas berdasarkan AuFA sebesar 60,25 % dan berdasarkan AuCN adalah sebesar 86,33 %.
Tidak tersedia versi lain